KEJAKSAAN NEGERI BATANG MENGHENTIKAN PENUNTUTAN BERDASARKAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM PERKARA TINDAK PIDANA PENCURIAN 4 (EMPAT) TANAMAN BONSAI

Pada Hari Rabu, 19 Januari 2022, Kejaksaan Negeri Batang melakukan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagaimana dalam Peraturan Kejaksaan RepubIik Indonesia Nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan berdasarkan Keadilan Restoratif terhadap perkara tindak pidana pencurian yang melanggar pasal 362 KUHP atas nama Tersangka RIDHO SUBKHI ALS BONGOL BIN SUPRAPTO. Sehingga  Kepala Kejaksaan Negeri Batang menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Kepala Kejaksaan Negeri Batang Nomor : B-138/M.3.40/Eoh.2/01/2022 tanggal 19 Januari 2022.

Kasus posisi singkat:

Bahwa Tersangka RIDHO SUBKHI ALS BONGOL BIN SUPRAPTO telah melakukan pencurian berupa 4 (empat) Tanaman Hias jenis Bonsai Anting Putri Di Depot Tanaman Hias milik Sdr. HERI FINAHMAN secara berturut-turut yang berada di Jl. Mayjend Sutoyo, Kel. Kasepuhan, Kec. Batang, Kab. Batang, tersangka melakukan perbuatannya dikarenakan terdesak dengan kebutuhan hidup karena tidak mempunyai uang dan harus membayar pinjaman Bank BRI, Selanjutnya Tersangka mempunyai niat untuk melakukan pencurian tersebut yang kemudian barang tersebut akan dijual dan uangnya akan Tersangka gunakan untuk membayar Angsuran pembayaran Bank BRI. Akibat perbuatan Tersangka, saksi HERI FINAHMAN mengalami kerugian sebesar Rp. 3.200.000,- (tiga juta dua ratus ribu rupiah).

Adapun alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain:

  1. Tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana;
  2. Pasal yang disangkakan tindak pidananya diancam pidana tidak lebih dari 5 (lima) tahun;
  3. Tindak pidana dilakukan dengan nilai barang bukti atau nilai kerugian yang ditimbulkan akibat dari tindak pidana tidak lebih dar Rp 2.500.000,- (pasal 5 Perja RJ), namun diperjelas kembali berdasarkan Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Kejaksaan RI Nomor 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif nomor B-4301/E/EJP/9/2020 tanggal 16 September 2020 poin 2 jika Penuntut Umum dapat mengecualikan syarat prinsip sebagaimana dimaksud angka 1, terhadap kondisi untuk tindak pidana terkait harta benda nilai barang bukti atau kerugian dapat melebihi Rp 2.500.000,- (dua juta Iima ratus ribu rupiah) tetapi ancaman pidananya tetap denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun kerugian tersebut. Sedangkan dalam perkara Inl nilai kerugian Rp 3.200.000,- (tiga juta dua ratus ribu rupiah) Kemudian atas (empat) tanaman hias jenis bonsai anting putri telah diketemukan dan dijadikan sebagai barang bukti sehingga atas kerugian korban bisa terminimalisir.
  4. Bahwa telah dilakukan upaya perdamaian yang menghadirkan kesepakatan perdamaian antara korban dengan Tersangka dengan tanpa syarat, namun pada saat kesepakatan tersebut, Tersangka memberikan uang Rp2.500.000,- (dua juta lima ratus ribu rupiah) sebagai bentuk permohonan maaf kepada korban karena perbuatannya.
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "KEJAKSAAN NEGERI BATANG MENGHENTIKAN PENUNTUTAN BERDASARKAN RESTORATIVE JUSTICE DALAM PERKARA TINDAK PIDANA PENCURIAN 4 (EMPAT) TANAMAN BONSAI"